7 Kota 4 Negara (Paris, Lyon, Geneva, Mestre, Venice, Amsterdam, Den Haag)

Hal penting yang harus dilakukan saat melakukan perjalan jauh adalah booking hotel, tentunya setelah booking tiket pesawat ya… Dua hal ini kalau sudah dilakukan bisa dibilang rencana perjalanan kita sudah 70%… sudah tenang karena dua hal ini cukup menguras kocek kita. 
Pun begitu saat tahun lalu melakukan perjalan selama 2 minggu ke beberapa negara pra dan pasca menghadiri kongres IFLA. Pertama kali yang dilakukan adalah booking pesawat (serta moda transportasi lainnya) dan hotel. Oh iya, ini dilakukan setelah melakukan registrasi kongres.

Perancis konon adalah negara asal kue imut manis ini.
alih-alih menikmati macarons dari Leduree (butik mewah kue
macaron yang paling terkenal) , nemu ini di mini market terdekat :D


Seorang teman yang sudah berpengalaman melakukan berbagai perjalanan ke luar negeri merekomendasikan saya situs rome2rio yang amat sangat membantu. Bayangkan, kecanggihan teknologi informasi membuat saya yang orang awam ini mendapatkan informasi yang lengkap untuk mengunjungi suatu tepat. Situs itu juga yang bisa memberikan gambaran keadaan suatu tempat, jarak tempuh, moda transportasi yang digunakan baik dengan pesawat, kereta, taksi, bus, bahkan juga jalan kaki…



Coming soon, gerai Leduree di Bandara CDG... lucu ya...


Transit di Singapore
Untuk hotel, saya khusus men-download aplikasi booking.com di iPad saya. Ini penting karena kita bisa langsung menunjukkan kode booking hotel yang sudah kita pesan. Di sini kita juga dibantu untuk menemukan tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi di sekitar hotel tempat kita menginap khususnya, tempat wisata di kota itu umumnya. Dan, ada beberapa testimoni dari para pengunjung hotel sekedar untuk memberika gambaran kepada kita keadaan hotel tersebut.

Penerbangan ke Paris saya menggunakan Air France. Harganya cukup fair dan layanannya juga lumayan. Tertarik sih dengan maskapai milik negara-negara Timur Tengah..tapi mahal…hehehe kapan-kapan saja deh. Saya juga teringat pesan mantan bos saya yang sering mengatakan, usahakan kita memakai maskapai negara yang akan kita kunjungi sekedar untuk merasakan layanan transportasi negara tersebut. Jadi pernah naik Philippine Airlines waktu ke Manila, Vietnam Air waktu ke Hanoi, SQ waktu ke Singapur, dan kali ini Air France… (kalau ke Malaysia dan negara lain ada yang cukup pake Air Asia saja..hehehe) kelak saat perjalanan pulang menggunakan KLM dari Amsterdam.

Setelah booking tiket untuk perjalanan yang sambung menyambung, tiket pesawat, tiket kereta, dan tiket pesawat lokal saat harus terbang dari Swiss ke Italia, maka selanjutnya adalah memesan hotel. Banyak sekali penawaran hotel di internet, tetapi saya memutuskan menggunakan booking.com dan satu hotel saya pesan melalui hotel.com. Keputusan itu diambil karena sebagian besar alasan ‘cari yang lebih murah’. Jadi memang penawaran hotel yang sama bisa kita dapatkan beberapa harga yang berbeda. Bedanya ada yang cukup signifikan, tapi sebagian besar sih selisih sedikit saja. Nah biasa deh, biar sedikit kalau dikumpulkan kan selisihnya jadi lumayan bisa dapat beberapa euro :D

Bandara CDG

Kota pertama yang saya singgahi adalah Paris, 4 hari 3 malam saya menginap di Grand Hotel Nouvel Opera. Hotel yang terletak di 152 Avenue Ledru Rollin, 75011 Paris Perancis ini adalah hotel bintang 2, penawaran harganya bagus dan meski kecil, hotel ini memiliki lift sehingga pengunjung hotel tidak perlu angkut-angkut koper melalui tangga. Konon hotel-hotel di Paris kecil-kecil dan tidak sedikit yang tidak memiliki lift. Selain harganya bagus, letaknya pun lumayan strategis di lokasi yang tidak terlalu ramai tapi tidak juga sepi… ini sih saya lihat dari foto-foto di internetnya lho yaa… hanya saja begitu sampai Paris, letak hotel ini rupanya tidak bisa ditempuh dengan satu kali perjalanan kereta, melainkan harus transit dulu karena jalurnya berbeda dengan kebanyakan hotel-hotel lain dari arah bandara CDG. Hufff.. Tapi nggak apa-apa, jadi semakin ‘ahli’ melakukan perjalanan menelusuri Paris dengan Metro (Kereta) :p

di Metro dari CDG menuju pusat kota, Paris

Hotel ini kecil tapi cukup nyaman dan aman. Sampai hari terakhir, tidak ada masalah yang penting selama menginap di hotel kecuali pernah ada perbaikan lift, sehari aja sih.. Penjaga hotelnya meski ganti-ganti orang tapi cukup ramah, kami berempat diperbolehkan menggunakan pantry kecil yang ada di lantai 1 sekedar mendapatkan air panas… fasilitas hotel-hotel di negara wisata ini memang terbatas, dan tidak lantas disediakan hal-hal yang mungkin kita butuhkan. Harus ditanyain dulu, harus dimintain dulu… pokoknya jangan jaim deh. Kalau ditolak ya sudah…:D
Menghangatkan diri di sini
saat hujan mengguyur Paris
Perjalanan selanjutnya adalah ke Lyon, Perancis. Kota terbesar ke-2 di Perancis, letaknya di timur laut. Perjalanan ke Lyon menggunakan pesawat Air France, dari bandara CDG ke bandara Saint Exupery. 



Dari bandara menuju hotel menggunakan taksi dan setelah itu kapok nggak akan naik taksi lagi, mahaaaalll. 


Hiks...tarifnya muahaaall.... taksi menuju hotel di Lyon

Hotel Park and Suite Elegance, Cite Internationale Lyon. Hotelnya nyamaaan banget... kayak di rumah sendiri #ehh

Di Lyon menginap di hotel Park and Suite Elegance Lyon - Cite Internationale yang terletak di 157 Grande Rue Saint-Clair, 69300 Caluire-et-Cuire, Perancis. Harga sedikit lebih malah dari hotel di Paris tapi tidak menyesal menginap di sini. Selain letaknya dekat dengan Venue Kongres IFLA, hotel ini juga terletak di jalan yang banyak penjual makanan halal (terutama kebab :) dan juga hotel ini aman dan nyaman. Menuju venue kongres IFLA bisa jalan kaki atau naik bus.  Empat malam menginap di sini. Hotel ini cukup ramai oleh para peserta kongres IFLA juga :)

Check in.... udah ga pernah ngantri ini sih... 



Gare de Lyon Part-Dieu, naik kereta menuju Geneva
menunggu kereta menuju Geneva

Dari Lyon, penjalanan selanjutnya adalah kota Geneva. Ke Geneva menggunakan kereta dari Gare de Lyon Part-Dieu menggunakan kereta SNCF yang tiketnya dibooking via internet. Perjalanan ini cukup mengasyikkan, beberapa kali melewati kebun/ladang bunga matahari, sayangnya bunga mataharinya sudah siap panen alias sudah mengering semua…. Dan rupanya terjadi gangguan perjalanan ke Geneva sehingga kereta berhenti di Stasium Amberieu untuk kemudian menyambung lagi dengan bis ke Geneva. Nggak dadakan sih, ini sudah disampaikan sejak kemarin-kemarin saat konfirm ke petugasnya. Ya sudah deh, menikmati perjalanan menuju perbatasan Perancis dan Swiss dengan bis bersama ratusan orang lainnya. Liburan musim panas ini sangat terasa di mana-mana, tidak hanya di kota-kota besar yang memang merupakan destinasi wisata terbesar, kota-kota kecil di sekelilingnya pun ramai oleh aktivitas mobile orang-orang dari satu negara ke negara lain. Ciri-cirinya, kelompok kecil yang merupakan sebuah keluarga (ada ayah ibu dan anak bahkan ada juga binatang perliharaan) plus koper-koper besar :)

Ladang bunga matahari yang sudah mengering, siap panen?

Stasium Amberieu 

Transit dan ganti kendaraan, naik bis!

Pemandangan di sepanjang jalan menuju Geneva

Seperti ilustrasi nove-novel ya... saya membayangkan pegunungan Alpen....

Bus berhenti di stasiun kereta tujuan yang seharusnya merupakan tujuan akhir perjalanan melalui kereta. Semua penumpang turun. Berbekal peta dari internet saya berusaha menemukan hotel yang bernama TOR. Singkat saja sih namanya…tapi tidak sesingkat pencariannya. Rupanya hotel ini lebih kecil dari hotel di Paris, pintu masuknya mirip sebuah Foyer rumah hunian… hanya ada lift saja menuju meja resepsionis di lantai 2. Gang sempit menuju Foyer yang ada lift-nya itu benar-benar membuat saya tak habis pikir bahwa ini adalah pintu masuk hotel TOR. Duuh udah desperado.. karena tulisan hotel TOR  besar di gedung ini dan saya bingung menemukan pintu masuknya. Setelah tanya-tanya orang Swiss yang lewat, ternyata pintu masukkan di balik gedung, alias saya harus berjalan memutar dan voila…ketemu!

Pemandangan di luar jendela kamar Hotel TOR

Hanya satu malam di Geneva, udara dingin menusuk membuat malas bergerak, padahal pemerintah kota ini sudah begitu baiknya dengan menggratiskan angkutan kemanapun keliling Geneva kalau kita menginap di salah satu hotelnya. Jadi si Mbak-mbak resepsionis tersebut memberikan kunci hotel plus penjelasan untuk memanfaatkan tiket bis gratis. Yaaa gimana nggak gratis secara mata uang Swiss ini lah yang paling mahal, lebih mahal dari Euro. CHF alias Franc Swiss. 

mata uang CHF - Franc Swiss, kenapa mereka nggak pake Euro?

Putar-putar di sekitar hotel dan langsung tidur cepat karena selain lelah akibat full di IFLA, ada rasa relaks yang menjalar karena merasa baru saja menunaikan tugas negara. Aktivitas yang membuat saya harus melakukan perjalanan ini. Buka lapak di kongres IFLA, memasang poster dalam poster session plus sedikit sedikit spik-spik untuk beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para pengunjung ‘stand’. Alhamdulillah tunai sudah…..

Packing lagi dari Geneva menuju Venice

Jam 10 pagi pesawat sudah harus take off ke bandara Marco Polo! Ya, perjalanan selanjutnya adalah Venesia. Jadi pagi-pagi sudah harus check out. Setelah menghabiskan semua yang disediakan untuk sarapan pagi, segera bergegas ke stasiun kereta menuju bandara internasional Cointrin Jenewa. Bandara ini tampaknya tidak terlalu besar, dan kami memang menggunakan penerbangan lokal dengan membooking EasyJet melalui EasyJet.com. Yang harus menjadi perhatian saat menggunakan penerbangan lokal ini adalah jangan sekali-sekali melanggar aturan untuk tas/barang bawaan yang akan anda bawa ke kabin. Ketat sekali pemeriksaannya. Jadi ikuti saja aturan tersebut ya. Nah mulai deh terbang ke Venice.


Kedai Kebab, Brothernya ganteng...sayang nggak kefoto :p
Ini satu porsi bisa berdua :)

Sesampainya di Bandara Marco Polo yang tidak terlalu besar, kami bergegas mencari angkutan menuju Mestre, mengapa ke Mestre dan bukan ke Venice? Karena meski tujuannya adalah Venice, seorang teman menyarankan untuk menginap di Mestre karena kalau di Venice selain tarif hotel jauh lebih mahal, lokasi hotel akan menyulitkan kita. Di Venice hanya ada transportasi kapal, jalan-jalannya hanya berupa gang-gang kecil berkelok-kelok dan naik turun yang tidak bisa dilalui kendaraan (dan memang Venice bebas (asap) kendaraan bermotor). Daripada kerepotan angkut-angkut koper mencari alamat penginapannya lebih baik menginap di Mestre, kota kecil dekat Venice. Dari Mestre ke Venice tinggal naik kereta saja atau bis/tram kurang lebih 20 menit saja. Akhirnya searching lah di booking dot com. Dapat hotel di Via Cappuccina 96, Mestre Italy. Hotel bernama Regit ini cukup nyaman, meski fasilitasnya minim, tidak masalah karena toh disitu cuma numpang tidur saja. Soal makanan, di dekat hotel ada (lagi-lagi) kedai Kebab yang satu porsi ukurannya besar banget, bisa untuk dua kali makan..hehehe.

Hotel Regit, Mestre Italy

Memilih hotel Regit karena alamatnya lucu...Via Capuccina..hehehe



Satu malam menginap di Mestre, esok sorenya sudah harus terbang lagi ke kota Amsterdam. Mendarat di Amsterdam menjelang pukul 8 malam, tapi langit masih terang benderang. Di sini rencananya 3 malam, satu malamnya akan menginap di Den Haag, di rumah seorang teman. Hotel yang dipilih tidak jauh dari Central Station, cuma jalan kaki saja. Hotel Crown namanya. Berada di wilayah turis yang ramai. Perjalanan selama di Belanda ditempuh dengan mobil Eva, seorang sahabat yang sudah cukup lama tinggal di sana dan berbaik hati antar jemput mulai dari kedatangan di Bandara Schipol sampai menyambangi beberapa daerah wisata.

Sampai di Amsterdam... itu saya yang pakai baju merah...kuecill yaa..salah strategi motretnya :D

Suasana Bandara Schipol
Menuju Amsterdam dari Bandara Marco Polo, Italy

Ke Den Haag dengan kereta, dan di Den Haagnya sendiri menuju Madurodam dan rumah tinggal sahabat menggunakan bus. Kurang lebih dua minggu melakukan perjalanan lama-lama jadi terbiasa dengan segala sesuatunya. Dan meski berpindah-pindah kota dan negara, tidak ada perbedaan yang signifikan yang memaksa untuk beradaptasi. Jadi sudah merasa nyaman saja, tapi sudah mulai homesick juga. Tidak terasa sudah di penghujung perjalanan. Sudah kangen Falika dan aaah….traveling ini membuat jadi kangen rumah. Makanya saya begitu excited di hari terakhir kembali ke bandara Schipol untuk menggunakan tiket pesawat yang terakhir. KLM. Alhamdulilaah lancar dan di Soekarno-Hatta sudah dijemput oleh orang-orang tercinta….



 (foto akan ditambah lagi :)





























































Komentar

Posting Komentar